Yayasan Ekosistem Lestari

Concern for The ecosystem

YEL merupakan organisasi non profit yang berlokasi di Medan, yang menyediakan dukungan teknis, skill dan melakukan aktivitas pendidikan secara langsung mengenai lingkungan hidup dan mendorong kesadaran masyarakat, program konservasi untuk spesies yang terancam punah dan pengembangan masyarakat, melakukan tindakan pemulihan darurat dan bantuan kemanusiaan.

Loading...

Article

Apa itu Pendidikan Lingkungan (PL)?

Detik demi detik dalam pengalaman hidup seseorang adalah sebuah rangkaian proses pembelajaran. Merasakan alam merupakan pengalaman pertama, sekaligus proses belajar pertama bagi seorang manusia. Selanjutnya secara perlahan dilanjutkan belajar mengenali alam ini, mengambil sesuatu dari alam dan selanjutnya memanfaatkan apa yang disediakan oleh alam.

Lahan Gambut: Pemanasan Global dan Perdagangan Karbon

Lahan gambut merupakan suatu ekosistem lahan basah yang dibentuk oleh adanya penimbunan/akumulasi bahan organik di lantai hutan yang berasal dari reruntuhan vegetasi di atasnya dalam kurun waktu lama. Akumulasi ini terjadi karena lambatnya laju dekomposisi dibandingkan dengan laju penimbunan bahan organic di lantai hutan yang basah/tergenang tersebut. Seperti gambut tropis lainnya, gambut di Indonesia dibentuk oleh akumulasi residu vegetasi tropis yang kaya akan kandungan lignin dan nitrogen.

Konservasi untuk Melindungi Keanekaragaman Hayati

Oleh Masrizal Saraan, S.Hut

Undang Undang RI No. 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumberdaya Alam Hayati dan Ekosistemnya, menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan konservasi sumber daya alam hayati adalah pengelolaan sumberdaya alam hayati yang pemanfaatannya dilakukan secara bijaksana untuk menjamin kesinambungan persediaannya dengan tetap memelihara dan meningkatkan kualitas keanekaragaman dan nilainya.

Akses Terhadap Air dan Sanitasi: Ketertinggalan Masyarakat Desa/Hutan (I/2)

Oleh  Joko Guntoro

“Kesadaran sebagai legitimasi dalam menentukan sebuah tindakan manusia terletak dalam bangunan kesadaran terhadap hubungan timbal balik yang bersifat ekonomis” (Juergen Habermas, Krisis Legitimasi).

Akses Terhadap Air dan Sanitasi: Ketertinggalan Masyarakat Desa/Hutan (II/2)

Oleh  Joko Guntoro

Suka Duka Mengikuti Orangutan di Ketambe

Ketambe merupakan salah satu statiun penelitian tertua di Indonesia, didirikan pada tahun 1971 oleh peneliti berkebangsaan Belanda bernama Herman D. Rijksen yang bekerja untuk Universitas Wageningen Belanda dan didanai oleh World Wildlife Fund (WWF) Belanda. Pada awal pendiriannya, Ketambe merupakan lokasi untuk rehabilitasi Orangutan, sekaligus sebagai pusat penelitian. Pada tahun 1980 pengelolaan statiun ini diserahkan kepada PHPA dan sejak itu Ketambe dijadikan sebagai pusat penelitian, sedangkan pusat rehabilitasi Orangutan dipindahkan ke Bukit Lawang, Bahorok, Kabupaten Langkat.

Sekolah itu bernama PPLH Bohorok



“Sekolah Pelita Harapan, anak kelas 9nya kok gede – gede banget, ya!” tanya  salah seorang siswi kelas 9 YP-SIM Medan.