SMAN 1 Kuala Langkat Belajar Pengolahan Dan Daur Ulang Sampah di PPLH Bohorok
Sabtu, 19 Nopember 2011 sekitar pukul 11.00 wib, tiga bus Pembangunan Semesta (PS) terlihat parkir di Bukit Lawang. Sekitar 100 siswa berseragam abu-abu berada di dalam bus, mereka adalah siswa SMAN 1 Kuala – Langkat. Terlihat wajah-wajah senang karena sebentar lagi akan rekreasi, keluar dari rutinitas sekolah. Meski masih tetap dengan tugas belajar, namun belajar kali ini dilakukan di ruang terbuka, lengkap dengan pemandangan indah dan udara segar, tepatnya di Pusat Pendidikan Lingkungan Hidup Bohorok (PPLH Bohorok) yang berada dekat Taman Nasional Gunung Leuser (TNGL).
Sesaat kemudian yang terjadi adalah antrian menyeberang jembatan gantung yang merupakan jalur utama menuju PPLH Bohorok. Beberapa siswa terlihat takut karena jembatan berayun saat dilewati dan gamang makin terasa saat memandang aliran deras sungai Bohorok di bawah jembatan. Tapi tidak sedikit siswa yang malah terlihat antusias menyeberangi jembatan tersebut.
Acara dimulai dengan “Selamat Datang”, perkenalan fasilitator, presentasi umum tentang PPLH Bohorok dan kegiatannya. Para siswa diajak untuk menjawab sapaan “Salam Lestari” dengan jawaban “Lestari”.
Kegiatan kali ini mengusung tema “Pengolahan Sampah”. Fasilitator yang ada dibagi atas 2 kelompok yakni pendamping yang bertugas mengawal kelompok siswa menelusuri areal PPLH Bohorok yang penuh dengan aneka tanaman dan pepohonan, kemudian fasilitator pos yang berada di tempat tertentu dan memberikan materi kepada siswa. Adapun materi yang diberikan berupa: Kompos, Daur Ulang Kertas, Daur ulang Kardus, Daur ulang plastik/ sachet dan Ecotrail Tanaman Obat.
Hari itu kepada para siswa diajarkan moto “mulailah dari diri sendiri dan lakukan hal-hal yang kecil” seperti membuang sampah pada tempatnya, memilah sampah dan memanfaatkan sampah sebagai peluang untuk berkreasi dan mencoba mengubah pandangan kita tentang sampah, bahwa sampah bukanlah sesuatu yang menjijikan, tapi kita bisa menyulapnya menjadi sesuatu yang berharga dan memberikan nilai ekonomi bagi kita.
Pada setiap pos, siswa berkesempatan belajar selama 20 – 25 menit, kemudian berpindah pos dengan didampingi fasilitator yang juga menjelaskan aneka tanaman/ pohon yang dilewati. Sembari berjalan menuju pos berikutnya sebagian besar siswa terlihat sibuk berfoto dan bergaya. Pemandangan alam yang indah dan asri memang mengundang untuk berfoto ria.
Namun kunjungan kali ini mendapat ‘hadiah’ dari alam berupa guyuran hujan yang sontak membuat siswa berhamburan mencari tempat berteduh. Untung saja ini tidak mengurangi semangat mereka karena itulah alam, tak bisa diprediksi hanya bisa dinikmati sembari dijaga kelestariannya
Kegiatan terakhir adalah mengunjungi kebun organik (Ecofarming Center) di Desa Timbang Lawan. Di sini siswa bisa melihat langsung dan belajar tentang sistem aquaponic dan periphyton untuk pemeliharaan ikan, serta aneka teknik bertani secara organik yang dilakukan pada kebun sayur-sayuran. (erna)








