Kelompok Turis Mencoba Elephant Jungle Patrol
Program ekowisata “Elephant Jungle Patrol” – sebuah program hasil kerjasama YEL, FFI, LPT, TNGL - melakukan percobaan dengan turis untuk pertama kalinya. Percobaan tersebut berlansung selama 3 hari 2 malam yaitu sejak tanggal 14 Juli hingga 16 Juli 2008. Percobaan itu dilakukan oleh 1 kelompok turis yang terdiri dari 3 orang turis, masing-masing Belinda Edwards (Swiss), Anne Patel (British), Peter Patel (British). Kelompok turis ini diharapkan menjadi kelompok referensi bagi pengembangan program “Elephant Jungle Patrol”.
Selama perjalanan tersebut, kelompok turis bermalam di dua Jungle Camp yang telah dibangun 1,5 bulan sebelumnya. Jungle Camp ini dikelola oleh kelompok masyarakat setempat yang telah diberikan penguatan kapasitas oleh Yayasan Ekosistem Lestari (YEL). Pada malam pertama, mereka menginap di Jungle Camp Batu Rongreng yang terletak di tepi Sungai Musam, Dusun Penampean. Sedangkan malam kedua dihabiskan di Jungle Camp Kerapu Kecil yang terletak di tepi Sungai Kerapu Kecil, Dusun Tanjung Subur. Sepanjang perjalanan menelusuri jalur penjelajahan di pinggiran Taman Nasional Gunung Leuser (TNGL), turis disajikan pada keindahan dan kekayaan flora dan fauna hutan hujan ini.
Perjalanan petualangan itu dimulai dari Conservation Response Unit (CRU) – tempat pemeliharaan gajah – di Tangkahan tanggal 14 Juli pukul 09.00. Pada tempat pemberhentian makan siang di Sungai Gelugur dekat barak pekerja perkebunan PT Sempana, selain melakukan coffee break turis bercengkerama pula dengan penduduk setempat. Selama hari pertama ini, perkebunan sawit dan karet cukup mendominasi pemandangan. Perjalanan hari pertama berakhir di Jungle Camp Batu Rongreng dimana di lokasi ini dapat dilakukan atraksi tubing dan penjelajahan gua yang terdapat di sekitarnya. Di camp ini, rombongan melihat Orang Utan liar.
![]() |
Melintasi TNGL: Anne (duduk di atas gajah di depan) dan Peter (di belakang memakai topi) melintasi hutan TNGL dengan menaiki gajah yang dipandu oleh mahout FFI. (Foto oleh Belinda Edwards)
|
Memasuki hari ke dua, Belinda bersama rombongan melanjutkan perjalanan menuju lokasi Jungle Camp kedua yaitu di Sungai Kerapu Kecil. Pada hari ini, perjalanan sepenuhnya dilakukan di dalam kawasan taman nasional. Pohon-pohon besar, perdu, aneka satwa menjadi pemandangan selama perjalanan. Setelah tiba di lokasi makan siang di Sungai Garut, setelah istirahat sesaat, Belinda, Anne ditemani oleh pemandu – David – dan Joko – petugas lapangan ekowisata YEL – berjalan kaki menuju Gua Garut – gua yang memiliki air terjun di dalamnya. Sementara itu, Peter lebih memilih tetap tinggal di lokasi makan siang dan melihat gajah. Peter dikenal sebagai seorang pecinta dan penyayang gajah.
Setelah berjalan kaki sekitar 35 menit, tibalah Belinda dan Anne ke mulut gua. Selama berjalan kaki menyusuri sungai menuju gua, mereka disajikan pemandangan pohon-pohon besar yang berlumut dan batu-batu besar. Setibanya di mulut gua, mereka tidak ingin masuk ke dalam gua dan lebih memilih untuk duduk sejenak di pelataran mulut gua dan kemudian memutuskan kembali ke lokasi makan siang. Kemudian, rombongan menyantap bekal makan siang yang dibawa dari Jungle Camp Batu Rongreng. Santapan makan siang disajikan di atas daun pisang dalam suasana santai, terbuka di tengah hutan. Selesai makan siang, memandikan gajah dan memasang pelana gajah, rombongan beranjak untuk melanjutkan perjalanan menuju Jungle Camp Kerapu Kecil.
“Gajahnya datang!” teriak Rani, salah seorang anak dari Dusun Tanjung Subur yang khusus datang ke lokasi Jungle Camp untuk melihat gajah, kepada orang di sekitarnya termasuk kepada pengelola camp. Segera, Kusmanto – penduduk anggota pengelola camp yang ditugaskan menyambut tamu – mengambil Degan yang telah dipersiapkan sebelumnya dan kemudian berjalan ke pinggir sungai untuk menyambut rombongan gajah yang datang.
“Welcome to Tanjung Subur Camp”ucap Kusmanto terbatah-batah sambil memberikan 1 buah Degan kepada setiap turis. “Thank you” sahut Anne, Peter, Belinda setelah menerima degan. “We are sorry for your convenience because of some buildings are under construction” ucap Joko – petugas lapangan YEL – kepada Belinda dan teman-teman. “No, it doesn’t matter” Peter menjawab.
Menyusuri Sungai Kerapu Kecil dari camp ke hulu sungai sekaligus mandi berbasah-basahan, dapat disaksikan tebing yang dipermukaannya terdapat jejak gerusan air yang telah menahun. Mungkin ratusan tahun. Tebing ini merupakan bukti nyata semakin mengecilnya volume air di Sungai Kerapu Kecil.
Gado-gado, vegetables salad, sup dan nasi putih menjadi menu hidangan makan malam rombongan di Jungle Camp Kerapu Kecil. Sementara bir yang telah direndam sejak sore di sungai agar dingin menemani menu makan malam rombongan turis yang ada. Makan malam berlangsung di bawah cahaya remang-remang sinar lampu petromaks, kunang-kunang dan suara binatang malam: jangkrik, kodok, gareng yang bersahutan silih berganti.
Selesai makan malam, turis dan mahout (pemandu gajah) berbincang-bincang santai. Sesekali diselingi tawa. Kesan pengalaman sepanjang perjalanan, mengenai camp, saran untuk perbaikan camp dan pelayanan ke depan, informasi singkat mengenai penduduk Tanjung Subur mewarnai pembicaraan malam itu.
Malam semakin larut, sekitar pukul 21.00 Belinda, Anne dan Peter memutuskan masuk ke pondok untuk beristirahat. “Good night” ucap mereka kepada semua yang ada di restauran. “Good night and have a nice sleep” jawab mereka yang ada di restauran. Seperti halnya di Jungle Camp Batu Rongreng, pondok yang terbuat dari bambu dan pinang, beratapkan rumbia, berkelambu putih, bantal, guling dan sprei berwarna hijau muda yang menutupi tilam menjadi tempat turis tidur dan melepaskan lelah. Sunyi dan dinginnya malam, gemericik arus sungai, suara angin dan binatang malam menemani tidur mereka yang ada di pondok.
Memasuki hari ketiga perjalanan (16/7). Setelah menyelesaikan sarapan, mahout segera memberi makan dan memandikan gajah. Di saat yang sama rombongan turis mempersiapkan kelengkapan barang bawaannya. Ibu-ibu yang bertugas menjadi koki di camp selama ada turis, bapak-bapak yang selain bertugas membantu melayani juga tidak ingin ketinggalan untuk ikut memandikan gajah dan berfoto. “Mas Joko, tolong fotokan yang bagus dan tolong dicucikan. Nanti kami ganti (pembayarannya-red)”. Ada juga ibu yang ingin berfoto dengan gajah, tetapi takut berdiri dekat dengan gajah seperti Ibu Suryati. “Wedi aku cerak-cerak karo gajah tapi yo pengen (Takut saya dekat-dekat dengan gajah tetapi yang ingin difoto-red)”.
Setelah semua persiapan selesai dilakukan, rombongan berangkat dari Jungle Camp Kerapu Kecil menuju Jungle Camp Kerapu Besar di Dusun Tualang Gepang. Rombongan berangkat sekitar pukul 09.40 dan dijadwalkan tiba di Kerapu Besar pukul 15.00 dengan beristirahat untuk makan siang di Sungai Alur Purba. Perjalanan menuju Jungle Camp ke tiga ini kembali menjelajah kawasan Taman Nasional Gunung Leuser (TNGL). Di tempat pemberhentian makan siang ini, mahout diharapkan dapat memberikan sedikit pelatihan kepada turis untuk mengendalikan gajah.
![]() |
Mengendarai: Peter (memakai topi), salah satu anggota romobongan turis, mencoba mengendarai gajah di jalur penjelajahan Elephant Jungle Patrol. (Foto oleh Belinda Edwards) |
Rombongan tiba di Alur Purba sekitar pukul 11.30 dan beristirahat untuk makan siang. Menurut Tiyok, salah seorang mahout, pelatihan mengendarai gajah yang rencananya akan diberikan kepada turis di Alur Purba tidak jadi diberikan karena tidak cukup ruang. Namun, sebagai gantinya, Peter diberikan kesempatan untuk mengemudikan gajah selama sekitar setengah jam dari Alur Purba menuju Jungle Camp Kerapu Besar.
Rombongan akhirnya tiba di Jungle Camp Kerapu Besar pukul 15.30 dan disambut oleh Jaka dan Eli (anggota kelompok pengelola camp) dengan menyajikan minuman tradisional masyarakat suku Karo yaitu Tuak. Setelah beristirahat kurang lebih selama 15 menit, Belinda, Anne dan Peter ditemani Diana, Vera berangkat ke Ecolodge di Bukit Lawang.(j_guntoro)











