Bantu Penyelamatan Lingkungan, YEL-PanEco Gelar Program Untuk Generasi Bumi

Bencana yang terus menerus melanda negeri ini akibat kerusakan lingkungan hidup terutama hutan ternyata membuat para penggiat lingkungan hidup harus bekerja ekstra keras untuk memikirkan cara agar laju kerusakan lingkungan dapat ditekan. Setelah Wahana Lingkungan hidup Indonesia atau Walhi menjual program penyewaan hutan, Yayasan Ekosistem Lestari-PanEco, sebuah LSM yang bergerak di bidang lingkungan menggagas sebuah program yang juga bertujuan menyelamatkan lingkungan hidup.

Menurut koordinator program mobil unit kesehatan dan lingkungan – Yayasan Ekosistem Lestari (YEL) Ferdinand  H Simatupang, program  yang bertajuk Untuk Generasi Bumi ini sudah mereka jalankan sejak Februari lalu dengan memanfaatkan jaringan radio seperti XTRA 104,8 FM  Rimo-Aceh Singkil, FATALI 101 FM Blangpidie-Aceh Barat Daya, NARA 104,1 FM Jeuram-Nagan Raya, dan FAS 103,7 FM Meulaboh-Aceh Barat. Pemanfaatan jaringan radio ini menurut Ferdinand sengaja dilakukan karena radio dinilai sebagai sarana yang cukup efektif disamping pelatihan penanganan bencana dan kunjungan langsung ke sekolah-sekolah yang ada di lima kabupaten tersebut.

“Program kita  di radio ini memakai dongeng-dongeng rakyat sebagai media untuk menyampaikan pesan, karena kita tidak ingin dongeng-dongeng rakyat yang banyak berisikan pesan untuk penyelamatan lingkungan itu musnah bersama lingkungan kita ”, ujar Fedinand, Selasa (11/3) di Medan.

Selain menyiarkan dongeng-dongeng rakyat, Program yang akan berakhir April nanti ini juga berisikan kegiatan pemberian TIPS, IKLAN SPOT dan FEATURES yang berisi informasi tentang permasalahan dan penanganan lingkungan hidup, kesehatan lingkungan dan bencana alam, dan LAGU UNTUK BUMI, dimana akan selalu diputar lagu-lagu yang bercerita tentang kondisi dan fenomena alam yang terjadi disekitar kita, sebagai upaya untuk selalu mengingatkan bahwa kondisi bumi dan segala bentuk isi didalamnya sedang sakit dan sekarat.

Ferdinand menambahkan, kerusakan lingkungan yang semakin parah diyakini sebagai faktor utama banyaknya konflik antara manusia dengan satwa liar di wilayah Pantai Barat Nanggroe Aceh Darussalam. Tahun 2007 lalu tercatat, konflik antara manusia dengan satwa liar seperti harimau di wilayah Aceh Selatan mengakibatkan lima orang tewa, dua orang tewas akibat bertikai dengan buaya di Aceh Singkil dan 2 orang lainnya tewas diinjak gajah di Aceh Barat. Dan angka ini diyakini akan bertambah jika kerusakan hutan Nanggroe Aceh Darussalam yang diperkirakan  terjadi hingga 22 ribu hektar pertahunnya itu tidak dicegah. (***)