“Amorphophallus sp” Menyambut SMP YP SIM
Yayasan Pendidikan Sultan Iskandar Muda kembali mengunjungi PPLH Bohorok. Tepatnya Sabtu 26 November 2011. Kali ini yang berkunjung adalah siswa SMP kelas 8. Tidak tanggung-tanggung, sebanyak 160 siswa beserta 11 guru, tiba di Bukit Lawang dengan 4 bus turis.
Kunjungan kali ini bisa dikatakan “beraroma khas” karena Bukit Lawang sedang musim durian dan di PPLH Bohorok baru saja ditemukan bunga bangkai Amorphophallus sp. Bunga yang mampu menebar aroma bangkai dan bisa tercium pada jarak 1 meter padahal ukurannya tidak begitu besar, tinggi sekitar 30 cm. Memang layak disebut bunga bangkai.
Para siswa sebelumnya telah diberikan sejumlah tugas oleh sekolah, terlihat dari antusiasnya mereka menanyakan data-data penting seperti ada berapa jenis tanaman yang ada di areal PPLH, berapa luas lahan dan sejumlah pertanyaan detil lainnya. Tentu saja ini membuat para fasilitator kewalahan. Belum lagi sejumlah siswa mengeluarkan jurus rekam, menggunakan perangkat rekam suara yang ada di telepon genggam (handphone). Salut buat para siswa yang begitu semangat menambah ilmu.

Pada kunjungan kali ini, PPLH Bohorok selain staf Pendidikan juga menggunakan 3 fasilitator dari non-staf. Masing-masing guru, ibu rumah tangga dan pemuda setempat. Melibatkan mereka adalah salah satu strategi PPLH untuk mengajak masyarakat terlibat langsung dalam kegiatan pendidikan lingkungan hidup. Harapannya mereka akan menjadi green agent alias sosok yang peduli lingkungan dan menyadari arti pentingnya bagi kehidupan masyarakat.
Salah satu kegiatan daur ulang yang diajarkan adalah membuat kerajinan dari karton bekas (kalender, undangan dan aneka karton lainnya). Dengan teknik melipat tertentu, akan dihasilkan potongan segitiga yang bisa dirangkai sedemikian rupa hingga berbentuk angsa, guci dan lain-lain.
Setelah istirahat makan siang dan bergembira di sungai Bohorok, siswa YP SIM dibagi atas 2 kelompok. Masing-masing akan mengunjungi kebun organik Ecofarming untuk belajar membuat EM (effective microorganism), ramuan khusus untuk mempercepat proses pembuatan kompos dari sampah organik. Jumlah pengunjung di kebun memang dibatasi sekitar 50-60 orang agar pengunjung bisa leluasa bergerak dan tanaman/ hewan ternak tidak terganggu.
Pembuatan EM menggunakan buah yang banyak tumbuh di kebun yaitu nenas. Siswa diminta untuk memarut nenas untuk kemudian diambil airnya dan ditambah dengan bahan lainnya seperti air nira, gula dan lain-lain.
Usai acara berkeliling kebun yang diselingi hujan, siswa SMP YP Sultan Iskandar Muda bersiap kembali ke Medan dengan tak lupa membeli sayuran organik segar sebagai oleh-oleh buat ibunda di rumah.
Semoga kelak mereka bisa menjadi generasi handal yang mampu mengelola alam dengan cara yang lebih baik dan berkelanjutan.
(erna dan deti)








