Wakil Dubes AS Jumpa Manohara

Bersama Wakil Dubes ASSibolangit, Tribun - Wakil Duta Besar Amerika Serikat untuk Indonesia, Theodore G Osius, mengakhiri lawatan ke Sumatera Utara dengan mengunjungi Pusat Karantina Orangutan Batu Mbelin, Sibolangit, Deli Serdang, Selasa (31/1). Pria yang akrab dipanggil Ted didampingi Konsul AS untuk Sumatera Kathryn Crockart.

Di kawasan karantina Orangutan seluas 3,9 ha yang dikelola SOCP (Sumatran Orangutan Conservation Programme) ini, Ted bertemu  sejumlah orangutan yang diberi nama beken, ada Beckham, Zidane, atau Manohara. Direktur Konservasi Ian Singleton menjelaskan tempat ini adalah fasilitas medis untuk orangutan yang terancam keselamatannya.

Karantina di tempat ini nantinya bertujuan supaya hewan langka ini bisa membentuk populasi baru yang mandiri di hutan hujan Taman Nasional Bukit Tigapuluh, Jambi. Sebelum program reintroduksi dilakukan pada 2003 silam, di tempat ini keberadaan orangutan sudah sirna sekitar 150 tahun. Sejak 2003 itu, SOCP telah melepasliarkan 145 mawas ke Jambi dan 13 ekor lainnya ke Cagar Alam (CA) Pinus Jantho di Kabupaten Aceh Besar.

"Saya bisa mengajak Anda melihat orangutan. Tapi tidak bisa membuat anda memegang," kata Ian kepada perwakilan sponsornya. Pria yang fasih berbahasa Indonesia ini beralasan, pengunjung bisa saja membawa bibit penyakit bagi orangutan yang sedang dirawat.

Di sebuah kandang besar, rombongan diajak melihat seekor orangutan yang tangan kirinya putus. Orangutan yang masuk ke karantina ini memang sering bernasib nahas. Ada yang saat disita sedang mengalami luka parah akibat diserang anjing, ditembaki berpuluh-puluh kali, atau lumpuh karena tetanus akibat pemakaian rantai menahun.

"Saat kecil orangutan memang lucu, tapi kalau sudah agak besar orang bisa kewalahan," kata Manajer Karantina, Yenni. Ironisnya, Menurut SOCP, sekitarnya 70% hasil penyitaan di Sumatera merupakan peliharaan polisi, militer atau aparat pemerintah lokal.

Selama pada periode karantina, orangutan digabungkan dengan orangutan yang lain di satu unit kandang sosialisasi. Pada beberapa kasus, ini menjadi pengalaman mereka berinteraksi dengan sesama. Hampir sama dengan kerangkeng lainnya di tempat itu, kandang besi ini penuh dengan ayunan dan makanan. Sanitasi juga diurus dengan baik.

Di kandang yang ukurannya paling besar ini, Ian menunjukkan Manohara ke Ted dan Kathryn Crockart. "Dia kami beri nama Manohara karena paling cantik. Punya rambut yang panjang," kata Ian. Karena tidak mengenal sosok yang dirujuk pada nama itu, kedua diplomat itu tidak mengerti. Hanya staf Konjen dan wartawan yang menanggapi lelucon tersebut.

Menurut staf SOCP, Asril, pasien karantina mereka memang lazim diberi nama orang beken. "Oh, itu biasa. Kami juga kasih mereka nama Beckham atau Zidane," katanya. Manohara, ujarnya, diberi nama karena masuk ke karantina saat peristiwa konflik keluarga model Manohara Pinot sedang disorot media massa. Sebelum angkat kaki dari Batu Mebelin, Ted menyampaikan kesannya. "Kami sangat mendukung dan mengagumi usaha yang telah dilakukan SOCP."

Menurut Ted, program konservasi yang dilakukan SOCP sejalan dengan misi kerjasama pemerintah AS dan Indonesia untuk mengurangi efek rumah kaca dan mempertahankan keragaman hayati dan hewani. "Anda mungkin bisa mengirimkan foto ular terbang yang anda ceritakan," kata Ted kepada Ian. Dalam perjalanan pulang, Ian mengaku beberapa kali melihat ular yang menurutnya paling indah itu. Staf SOCP pun mengaku bisa langsung menunjukkan koleksi ular terbang dan kobra mereka. Antusiasme pada makhluk melata itu ternyata tidak dirasakan Kathryn. "Untuk saya, sudah cukup bagus melihat ular kobra hari ini," katanya sambil tergelak.

Karantina orangutan Batu Mbelin dirintis oleh Dr. Ian Singleton yang telah puluhan tahun menjadi penyelamat primata langka itu. Amerika Serikat ikut mendukung program ini sejak pengalihan utang (debt-swap) dengan pemerintah Indonesia yang disepakati pada tahun 2009 lalu. Inti kesepakatan, Negeri Paman Sam akan mengurangi utang Indonesia sebesar 28.5 juta dollar AS selama delapan tahun. Sebagai gantinya, pemerintah Indonesia akan menggunakan dana ini untuk kegiatan konservasi hutan di Indonesia.

Sumber: Tribun Medan