Eko-Arsitektur

Bukit Lawang merupakan suatu daerah Kunjungan wisata yang ramai dikunjungi oleh wisatawan lokal dan mancanegara. Berlokasi di dalam kawasan Ekosistem Leuser yang terkenal dengan kekayaan beragam hayati menjadikan Bukit Lawang sebagai daerah wisata konservasi yang paling diminati di Sumatera. Sebagai penunjang kegiatan wisata konservasi, kawasan didukung salah satunya oleh fasilitas akomodasi (penginapan/bungalow) Ecolodge Bukit Lawang dengan konsep yang berwawasan lingkungan. Umumnya bentuk bangunan dan material yang digunakan sangat konvensional, tetapi diaplikasikan dengan sangat menarik, seperti penggunaan kayu, bambu, batu kali, rumbia, bahkan tanah liat, sebagai material dasar yang menampilkan estetika yang selaras dengan lingkungan.

Lingkungan Sebagai Ide dasar pemikiran & pengembangan

Lingkungan adalah hal yang utama bagi penerapan konsep bentuk dan material bangunan. Pemanfaatan ruang luar dijadikan tema khusus dan ciri khas bagi bagi fasilitas - fasilitas akomodasi yang ada di kawasan tersebut, beberapa hal yang menarik perhatian yaituadalah:

  • Bukit lawang sebagai bagian dari kawasan Ekosistem Leuser merupakan kawasan konservasi dan ekowisata yang terletak sekitar 100 km dari kota medan dengan ketinggian sekitar 260 m dpl, dengan curah hujan rata-rata di atas 200 mm/bulan (daerah dengan iklim yang sangat lembab), dan meliputi kawasan seluas 1,5 juta hektare, yang sebagian besar masuk wilayah Provinsi Aceh. Kawasan hutan lindung tersebut memiliki 45% dari 10.000 spesies tumbuhan yang ada di Asia Tenggara, dan memiliki sekitar 700 spesies hewan liar yang berbeda.
  • Pemanfaatan potensi sungai sebagai penunjang sarana Infrastruktur dan kebutuhan. Sungai Bohorok merupakan potensi wisata lainnya yang ada di bukit lawang yang secara umum di gunakan para wisatawan untuk rafting dan tubing, selain dari masyarakat yang menggunakannya sebagai sumber air bersih, sebagai alternatif sumber mata air dari pegunungan. Keindahan sungai Bohorok juga di manfaatkan sebagai akses dengan menggunakan jembatan gantung (menuju Ecolodge Bukit Lawang) dan orientasi pemandangan utama untuk fasilitas akomodasi yang ada di pinggiran sungai Bohorok bukit lawang.
  • Bentuk dan filosofi bangunan mengarah ke langgam arsitektur tradisional melayu dan karo, erdasarkan pada mayoritas penduduk yang ada. Selain itu perkembangan juga mengarah ke arsitektur tropis dengan bentuk vernakular dan dengan penerapan berbagai material lokal dan konvensional karena lebih murah dan mudah didapatkan.
  • Bentuk lainnya yang mengarah ke arsitektur tropis, dapat dikatakan sebagai bentuk bangunan mayoritas yang terdapat di kawasan wisata tersebut, hanya saja transformasi bentuk dan dekorasi serta aplikasi material yang membedakannya. Atap bangunan menggunakan rumbia.
  • Penggunaan Material,secara umum menggunakan material konvensional, karena mudah didapatkan, dan secara khusus aplikasi material yang di gunakan sebagai dekorasi menggunakan batu alam yang di ambil dari sungai Bohorok, dan bambu -bambu, kayu karena dapat memaksimal kan nilai estetika bangunan sebagai daya tarik wisata yang datang berkunjung
  • Pengelolaan dan pemanfaatan lingkungan luar di daerah yang mempunyai resapan yang sangat tinggi sangat berpengaruh terhadap kestabilan serta ketahanan fisik bangunan. Untuk itu perlu di lakukan antisipasi agar bangunan tetap kokoh dan aplikasi material bertahan lama, seperti:
    • membuat bangunan dengan struktur yang ringan,
    • membuat pasangan trasram (plasteran kedap air 1 ; 2 ) min + 30 cm dari permukaan tanah,
    • membuat tapak bangunan agar lebih jauh dari pinggiran sungai (atau membuat turap pada dinding sungai),
    • membuat parit pada sekitar bangunan agar air dapat di salurkan langsung melaui kanal,
    • menaman berbagai tanaman perdu dengan akar kuat sebagai buffer sehingga tidak akan terjadi longsor,
    • Membuat taman - taman di sekitar ruang luar dan menutupi tanah dengan rumput,
    • Mengelola sampah dengan baik dangan mengumpulkan sampah dari tumbuhan (organik ) diolah,
    • Membuat pengolahan limbah domestik, dengan sistem Biofiltersi sangat aman untuk di daerah seperti ini.

Penghijauan DAS atau tebing sungai dengan berbagai tanaman ringan sangat perlu dilakukan  agar daya dukungan tanah tetap stabil.

Pemanfaatan ruang luar seperti di taman Ecolodge Bukit Lawang dengan tanaman yang bervariatif sangat baik untuk dilakukan. Tanaman dengan jumlah yang maksimal akan membantu mengurangi resapan langsung air tanah yang akan mengurangi kestabilan daya dukung tanah dipinggiran daerah sungai.

Pegelolaan Limbah domestik yang berasal dari kamar mandi dan septic tank sebaiknya dilakukan melalui pemisahan basin untuk kotoran padat dan cair. Kotoran cair sebaiknya dialirkan ke kolam penyaringan melalui sterilisasi dengan bahan pasir dan agregat, serta berbagai tanaman air sebagai media penyaringan dari material organik yang mebantu kehidupan retnik bagi bakteri predator, sehinga akhirnya air dapat di lakukan pembuangan (sistem Biofilterasi Horizontal Flow). Sementara untuk kotoran padat sendiri dapat dijadikan kompos atau di kubur setiap beberapa bulan sekali.