Skip to content

Yayasan Ekosistem Lestari (YEL)

Logo Yayasan Ekosistem LestariYEL (Yayasan Ekosistem Lestari) didirikan pada awal tahun 2000, merupakan lembaga yang peduli pada masalah pelestarian alam dan pengembangan masyarakat. Pendirian lembaga ini dilakukan sebagai respon positif terhadap munculnya berbagai permasalahan lingkungan hidup dan konservasi alam khususnya terhadap ancaman pencemaran serta punahnya sistem pendukung kehidupan yang penting bagi seluruh makhluk di dunia.

YEL merupakan organisasi non profit yang berlokasi di Medan, yang menyediakan dukungan teknis, skill dan melakukan aktivitas pendidikan secara langsung mengenai lingkungan hidup dan mendorong kesadaran masyarakat, program konservasi untuk spesies yang terancam punah dan pengembangan masyarakat, melakukan tindakan pemulihan darurat dan bantuan kemanusiaan.
Lanjut...

“Sekolah itu bernama PPLH Bohorok”

August 1, 2008 by admin



“Sekolah Pelita Harapan, anak kelas 9nya kok gede – gede banget, ya!” tanya  salah seorang siswi kelas 9 YP-SIM Medan.


Pertanyaan ini muncul dengan polosnya ketika, acara tanya jawab antara siswa – siswi Sekolah Pelita Harapan Bukit Sentul  Jakarta dengan Sekolah yang dikelola oleh Yayasan Perguruan Sultan Iskandar Muda, Medan. Kunjungan ini memang disengaja dan menjadi salah satu rangkaian field trip yang diadakan di Sumatera Utara pada tanggal 5 – 10 juni 2008. “ Kami sengaja mengajak anak didik kami kesini, karena disamping  berwisata kami juga mengajak anak – anak belajar  langsung untuk mengenal dunia luar. Terus terang sekolah kami berbeda dengan disini yang ditengah kota. Sekolah kami berada di atas bukit yang jauh dari keramaian.” Ujar Lilik salah satu guru SPH yang mendampingi perjalanan ini.

Memang sekolah YP – SIM adalah sebuah sekolah yang beda dari sekolah biasanya. Disekolah ini menjujung tinggi keberagaman RAS. Bila anda melihat langsung sekolah ini anda akan menjumpai keberagaman siswa yang unik. Semua dengan nyata bercampur baur mulai dari keturuan tionghoa, jawa, india, batak dan masih banyak lagi. Sekolahpun memiliki 3 rumah ibadah sebagai media pembelajaran agama ada vihara, gereja maupun masjid. “ mungkin ini satu-satunya sekolah di Indonesia yang menghargai segala perbedaan” terang dr. Sofyan Tang pendiri dan Pembina sekolah ini yang beberapa bulan yang lalu mempresentasikan keunikan sekolah ini di Negara New Zealand.

Belajar Berbuat Untuk Lingkungan Hidup

Sehari setelah kunjungan di beberapa tempat dikota Medan, perjalananpun dilanjutkan menuju ecologde – Bukit Lawang cottage sebuah tempat asri di kecamatan Bohorok yang dikelola oleh Pusat Pendidikan Hidup Bohorok di bawah naungan Yayasan Ekosistem Lestari (YEL) , ditemani suara gemiricik arus sungai Bohorok para siswa ini belajar bagaimana membedakan sampah organic dan non organic. Didampingi oleh para fasilitator, mereka belajar membuat kertas daur ulang.. Mereka langsung belajar mempratekkan proses pembuatan kertas daur ulang. Hasilnya sungguh sangat tidak mengecewakan.

Goa kampret


Setelah berkotor – kotor ria, perjalananpun dilajutkan menuju goa kampret. Melewati perkebunan karet, mereka melihat langsung proses pengambilan getah karet. Kurang lebih 30 menit perjalanan, rombongan pun terkesima dengan pesona alam perut bumi tersebut, terkagum-kagum dengan menyaksikan stalaknit dan stalanit yang ada di dalam goa. “ Proses ini membutuhkan ratusan tahun” terang Ilham salah satu fasilitator dari PPLH Bohorok.

Diantara bau khas kotoran para kelelawar  yang jadi penghuni goa tersebut para siswa terus mengeksplor apa saja yang ada di dalam goa. “ Saya kira anak – anak nggak berani masuk goa, ternyata mereka yang terus mengajak ke dalam” ujar Ibu yudha terkagum dengan keberanian peserta didiknya. Mungkin ini karena keingintahuan yang besar. Hari itu seluruh peserta benar – benar merasa puas, walaupun baju yang mereka kenakan kotor semua. Paling tidak pengalaman ini menjadi pembelajaran yang berarti buat mereka.

Melihat si Sandra

Keesokan harinya, dengan penuh semangat para siswa ini melakukan perjalanan yang penuh dengan kejutan. Salah satunya mereka harus menyebrangi derasnya Sungai Bahorok dengan mengunakan perahu kayu kerek kecil yang didesain sedemikian rupa, tanpa menggunakan dayung ataupun motor tempel, hanya menggunakan 2 utas tali untuk menarik perahu.    

Sebuah pengalaman baru mereka dapat. Memasuki kawasan Taman Nasional Gunung Leuser jalan mendaki tidak menjadi halangan, rimbunnya hutan menimbulkan suasana baru bagi para peserta. Tak kurang 15 menit berlalu peserta menyaksikan seekor ibu muda dan anaknya bergelantungan di pohon. Ya itu si Sandra! Orang hutan yang sedang mencoba mengambil makanan yang disediakan beberapa petugas Taman Nasional. cantik sekali. Sesekali marah dan melindungi si kecil ketika tangan petugas berusaha menyentuhnya. Anaknya yang masih kecil terihat bingung dan penuh tanda tanya di raut mukanya.

Orang hutan sering kali dapat dijumpai disini. Kawasan ini merupakan salah satu habitatnya. Banyak turis asing maupun lokal ingin melihat dari dekat binatang langka ini. Tidak boleh sembarangan orang memberi makan hewan ini. Binatang ini layaknya seorang petani alami. Beberapa tanaman asli hutan disini hanya dapat tumbuh setelah buah dan bijinya dia makan. Merekalah yang menjaga hutan ini terus lestari. Walaupun saat ini keberadaannya sanagt terbatas oleh penebangan liar, perburuan, dan pengalihan fungsi lahan menjadi pertanian.

Mengarungi Sungai Bahorok

Setelah melihat dan berkenalan dari jauh dengan Sandra dan anaknya siswa SPH, mengarungi Sungai Bahorok dengan perahu rakitan yang dibuat dari ban dalam truck. “Tubbing”atau traditional rafting istilah yang dipakai didaerah ini. Didampingi para rafter lokal berpengalaman para siswa ini menyaksikan kehidupan daerah aliran sungai Bohorok. Riuh – rendah teriakan para rafter baru ini menandakan sesuatu yang luar biasa ketika melewati jeram – jeram yang ada. Ditengah perjalanan para siswa dan guru turun dari perahu rakitan dan dengan asyiknya mereka mengibaskan tangan – tangan mereka ke dalam air dan diarahkan ke teman yang ada didepannya. Pesta air Sungai Bahorokpun berlangsung dengan suka cita. Semua berbaur dengan tawa riang.

60 menitpun berlalu tanpa terasa. Pesta airpun harus selesai. Pesta kebun telah menunggu. Dalam perjalanan menuju kebun organic para siswa menyaksikan dan mempraktekkan usaha kerajinan pembuatan tongkat hio ( semacam alat sembahyang agama budha ) berbagai ukuran. Tanpa canggung mereka belajar langsung dari penduduk sekitar lahan demplot milik PPLH ini.

Setelah menikmati nikmatnya ikan tawes bakar, urap – urap dan segarnya es markisa buatan masyarakat sekitar, peserta didampingi pengelola dan petani setempat diajak berkeliling kebun organic. Melihat dengan jelas teknik – teknik bertani dengan meninggalkan pestisida, maupun pupuk kimia. Puas berkelilingi kebun diantar dengan bentor, rombongan melihat usaha pengolahan gula merah dari pohon aren secara tradisional.
Malam hari, setelah makan malam kegiatanpun ditutup dengan sederhana, setelah presentasi tentang orang hutan dari teman-teman Sumatera Orang utan conservation Programme (SOCP).

Kunjungan ke 3

Kunjungan SPH ke PPLH Bohorok bukan yang pertama, melainkan sudah yang ketiga. Menurut Lilik, Bahorok lokasi yang bagus untuk pembelajaran khususnya siswa kami. Tanpa terasa anak – anak diberi pengalaman langsung, mengenal keragaman budaya setempat, menyentuh langsung lingkungan. Dari sini kami berharap anak – anak kami bisa peduli dengan sesame, dan menghargai semua ciptaan Tuhan. “ jadinya udah senang, tambah ilmu lagi” tambahnya. Ya ….. Sekolah itu bernama PPLH Bohorok. Sampai jumpa tahun depan!!! (galih yg budiman)
 

AdaptiveThemes