“Menyampah” di Simalungun

Istilah pemberdayaan wanita sudah lumayan sering kita dengar dan menjadi bahan tulisan di berbagai media. Kaum wanita dipercaya merupakan kunci bagi sukses sebuah negara karena semuanya bermula dari keluarga yang sejahtera. Kaum wanita selaku ibu rumah tangga memiliki peran strategis meningkatkan kesejahteraan kelompok masyarakat.
Adalah Sariani Damanik SH, selaku Kakan Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Kabupaten Simalungun, yang mengundang saya untuk berpartisipasi menjadi pembicara pada Kegiatan Penyuluhan Bagi Ibu Rumah Tangga Dalam Membangun Keluarga Sejahtera, di Nagori (desa) Buntuturunan Kecamatan Hatonduhan, Kabupaten Simalungun. Kegiatan dilakukan di balai desa, tepatnya 13 April 2011, dihadiri sekitar 40 orang. Selain presentasi dari para pembicara, para ibu diajak praktek langsung membuat pupuk organik oleh Edi M Purba, Ketua Kontak Tani Nelayan Andalan.
Pada kesempatan tersebut saya memberi presentasi tentang pengelolaan sampah. Istilah saya ‘menyampah’ atau mengelola sampah.
Lantas apa hubungannya ‘keluarga sejahtera’ dengan ‘menyampah’?
Jawaban yang umum adalah dari sampah bisa dibuat aneka kerajinan yang bernilai ekonomis. Ini pula yang menjadi permintaan umum setiap kegiatan di masyarakat.
Jujur. Saya melihat kerajinan dari sampah bukan solusi jitu. Tidak salah hanya kurang pas. Pertama, kerajinan berkaitan erat dengan kreatifitas dan ketrampilan. Kedua, untuk bernilai ekonomis, kerajinan membutuhkan kegiatan pemasaran dan modal awal.
Kedua faktor inilah yang saya nilai kurang pas untuk ibu rumah tangga. Sesuai namanya, ranah para ibu tersebut adalah di rumah. Mereka manajer yang mengatur flow rumah tangga. Disadari atau tidak, banyak keputusan yang sukses jika penerapannya di manage dengan baik.
Salah satu kunci sejahtera adalah mengefisienkan pengeluaran.
Mengefisienkan pengeluaran bisa dilakukan dengan banyak cara, antara lain mendaur ulang pemakaian perabot/ peralatan dari bahan yang sulit busuk secara alami di alam bebas. Misalnya perabot/ peralatan dari plastik. Mangkuk plastik yang bocor atau pecah, sebaiknya tidak langsung dibuang, karena akan menjadi sampah yang sulit busuk di alam bebas. Gunakan kembali sebagai wadah bumbu di dapur, atau menjadi pot bunga dengan sedikit modifikasi (diberi hiasan atau cat warna agar menarik).
Sendok masak atau sutil yang patah, bisa digunakan sebagai sendok kebun/ alat korek tanah untuk kegiatan berkebun dan lain sebagainya.
Dengan kebijakan daur ulang tersebut, tidak perlu membeli tempat bumbu, sendok kebun dan lain-lain. Hemat kan? Kalau sudah hemat pengeluaran berarti, anggaran rumah tangga lebih ke arah biru (lawan dari merah jika anggaran defisit) alias surplus.
Mengefisienkan pengeluaran bisa berarti mengelola sampah yang dihasilkan setiap harinya. Ini bisa dilakukan dengan baik jika para ibu selaku manajer rumah tangga, mampu mengklasifikasikan jenis sampah yang dihasilkan.
Secara umum pembagiannya adalah sampah organik dan sampah non organik. Diantara keduanya ada sampah beracun. Dua yang pertama sudah umum diketahui, yang ketiga cenderung terabaikan. Adakah yang berfikir apa bahaya baterai bekas yang dibuang begitu saja ke alam bebas? Air bekas cuci/ mandi yang penuh dengan busa deterjen dan sabun? Belum lagi botol/ kaleng bekas wadah aneka bahan kimia, mulai dari semprot nyamuk, pewangi ruangan hingga cat dinding.
Bahan kimia tersebut sedikit demi sedikit akan tertimbun di tanah dan pada jumlah tertentu akan mempengaruhi kualitas air tanah. Tidak dalam waktu yang singkat dan bisa jadi umur kita tidak cukup panjang untuk mengetahui/ merasakan efek buruknya.
Disinilah ibu rumah tangga diharapkan menjadi manajer yang tidak hanya cakap tapi juga bertanggung jawab, untuk tidak mewariskan ‘keburukan’ pada anak cucunya.
Caranya mencoba mencari alternatif penggunaan bahan kimia tersebut. Misalnya membakar sampah kebun setiap sore, asapnya mampu mengusir nyamuk sehingga rumah bebas nyamuk pada malam harinya. Menempatkan rangkaian bunga segar atau irisan pandan/ sereh sebagai pengharum ruangan. Atau bijaksana menggunakan bahan pembersih (sabun, deterjen, pengilat perabot dll), sehingga kuantitas bahan kimia yang terbuang ke alam masih dalam batas toleransi kemampuan alam untuk mengurainya.
Manajer rumah tangga alias ibu rumah tangga yang ramah lingkungan tentunya akan membentuk keluarga yang ramah lingkungan. Pada akhirnya membuat alam sekitarnya selalu dalam kondisi yang baik. Alam yang baik akan memberikan hasil yang baik pula, antara lain udara bersih, air yang bersih, buah/ sayur yang menyehatkan dan aneka kebaikan lainnya. Muara akhirnya adalah manusia yang sehat. Manusia yang sehat punya kemampuan untuk berkarya dengan lebih baik dan tentu saja memberi hasil yang lebih baik.
Nah sudah terjawabkan hubungan ‘keluarga sejahtera’ dengan ‘menyampah’?
Pada kesempatan itu, materi saya sajikan dengan bentuk humor, serius tapi santai, mengingat para manajer yang saya hadapi adalah manusia yang lumayan banyak ‘beban’ masalahnya. Bahkan pada kesempatan itu terlihat beberapa balita. Bayangkan saja tangguhnya manajer tersebut, menyimak informasi sambil menggendong bayi, benar-benar multi tasking! Begitu multi tasking-nya sehingga meski berkali-kali menyebut dengan lengkap asal saya dari Yayasan Ekosistem Lestari, tetap saja yang diingat Ibu Yayasan dari Medan.
Salut buat ibu-ibu nagori Buntuturunan dan hormat saya buat para aparat pemerintah setempat yang turut serta pada kegiatan hari itu. Sekaligus syukur saya padaNya yang mempertemukan saya dengan Kakan Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Simalungun, Sariani Damanik SH dan staf-stafnya yang juga ‘manajer multi tasking’.
Semoga kita bisa lebih bertanggung jawab terhadap sampah yang kita produksi dan alam yang kita ‘eksploitasi’ karena kita meminjam alam ini dari anak cucu kita.
-Ibu Yayasan dari Medan-
(deti)












