Yayasan Ekosistem Lestari

Concern for The ecosystem

YEL merupakan organisasi non profit yang berlokasi di Medan, yang menyediakan dukungan teknis, skill dan melakukan aktivitas pendidikan secara langsung mengenai lingkungan hidup dan mendorong kesadaran masyarakat, program konservasi untuk spesies yang terancam punah dan pengembangan masyarakat, melakukan tindakan pemulihan darurat dan bantuan kemanusiaan.

Loading...

Suka Duka Mengikuti Orangutan di Ketambe

Ketambe merupakan salah satu statiun penelitian tertua di Indonesia, didirikan pada tahun 1971 oleh peneliti berkebangsaan Belanda bernama Herman D. Rijksen yang bekerja untuk Universitas Wageningen Belanda dan didanai oleh World Wildlife Fund (WWF) Belanda. Pada awal pendiriannya, Ketambe merupakan lokasi untuk rehabilitasi Orangutan, sekaligus sebagai pusat penelitian. Pada tahun 1980 pengelolaan statiun ini diserahkan kepada PHPA dan sejak itu Ketambe dijadikan sebagai pusat penelitian, sedangkan pusat rehabilitasi Orangutan dipindahkan ke Bukit Lawang, Bahorok, Kabupaten Langkat.

Hingga sekarang Statiun Penelitian Ketambe merupakan Laboratarium alam yang sangat istimewa, sehigga menjadi daya tarik tersendiri bagi peneliti dalam dan luar negeri, khususnya penelitian primata, seperti Orangutan (Pongo abelii), Kedih (Presbytis thomasi) dan Monyet ekor panjang (Macaca fascicularis).
 
Suka duka mengamati Orangutan liar di alam

Mengamati Orangutan Sumatera di alam liar sungguh mengasyikkan, pertama timbul pertanyaan bagaimana hewan yang cantik dan begitu besar bergerak dan tinggal diatas pohon. Apalagi melihat jantan dewasa yang dengan rambut yang panjang bergerak bergantung pada ketinggian kurang dari 10 meter, selanjutnya juga melihat betina dengan anak yang sudah agak besar masih lengket di badan induknya yang sedang bergerak.

Pekerjaan mengamati Orangutan  liar dimulai dari bangun pagi pada jam 04.45, mengecek peralatan lapangan,  sarapan  pagi dan menyiapkan perbekalan untuk makan siang. Kemudian dengan memakai senter menuju ke sarang yang dibuat pada sore hari sebelumnya. Perjalanan menuju sarang  harus ditempuh dengan berjalan kaki di trail atau kadang-kadang naik turun bukit dengan waktu tempuh bisa mencapai 30 – 45 menit, tergantung berapa jauh sarang dari camp, selanjut menunggu kapan Orangutan keluar dan bergerak dari sarang.

Menikmati pekerjaan paling di utamakan,  untuk melakukan pekerjaan ini di butuhkan kesabaran yang tinggi karena sampai di sarang kadang-kadang bisa lebih dari 30 menit menunggu di bawah pohon sarang, baru Orangutan keluar dan bergerak dari sarang atau makan pada satu pohon lebih dari 6 jam. Selanjutnya mengikuti kemana Orangutan pergi,  mengamati serta mencatat prilakunya, sampai Orangutan membuat sarang sore untuk tidur malam yang kadang-kadang bisa sampai jam 18.30 atau lebih.

Pengamatan dan pengambilan data dilakukan mulai dari Orangutan bergerak, dengan mencatat di data sheet semua aktivitas yang dilakukan oleh Orangutan, seperti :
 -    Buang air besar, mengambil kotoran untuk sampel dan dimasukkan kedalam botol  +10 ml yang   telah  diisi  pengawet  SAF  dan  alkohol,  kadang - kadang  kotoran   akan menimpa kepala atau bagian tubuh asisten yang sedang mengambil sampel.
-    Kencing, di tampung dengan plastik atau disedot dengan pinset atau jarum suntik, dari daun kayu, walaupun tetesan kencing yang masih ada diatas menetes dan kena pada kepala atau tubuh asisten. Kemudian diteteskan pada sejenis kertas test urine untuk mengetahui PH dan lain-lain              
-    Bergerak (move), bagaimana Orangutan bergerak, apakah bergantung dengan dua tangan, menarik pohon, berjalan dengan menggunakan keempat kaki diatas cabang, posisi naik atau turun serta berjalan di atas tanah. Kemudian juga mengamati aktivitas yang dilakukan oleh anaknya untuk betina yang punya anak, apakah anaknya lengket (cling) pada induknya atau melakukan gerakan yang sama seperti yang dilakukan oleh induknya.
-    Makan (feeding), mencatat jenis makanan dan bagian-bagiannya serta cara  makan meliputi :
1. Buah : buah muda, buah yang telah masak dan bagian-bagiannya seperti:
daging buah, bagian luar biji, bagian tengah biji dan bagian dalam dari biji.
2. Daun : Daun muda dan semua daun baik muda maupun tua      
3. Kambium atau kulit kayu
4. Stem : Tangkai daun tertentu dan jenis liana yang dimakan seperti manusia makan tebu
5. Serangga : Rayap, Semut, Ulat dan lain-lain 
6. Bunga dari pohon atau semak di areal
7. Minum, minum air dari lubang pohon atau alur dam minum susu ibu untuk anak yang masih menyususi
8. Makan tanah
9. Makan Kukang (Slow loris)
-    Istirahat (rest), mencatat bagaimana posisi istirahat, apakah bergantung, berdiri, duduk, tidur, terlentang atau istirahat dalam sarang.    
-    Tetangga (party), mencatat Orangutan lain yang sudah mendekati kurang dari 50 meter, siapa yang mendekat dan menjauh pada jarak 10 meter atau kurang dan siapa yang mendekat pada jarak 2 meter atau kurang, selanjutnya apa reaksi dari salah satu individu semua di catat pada data sheet.

Selama mengikuti Orangutan di Station Penelitian Ketambe ada beberapa hal yang tidak menyenangkan  pernah dialamai oleh pengamat (observer) antara lain :

Perasaan was-was akan berjumpa binatang buas seperti Harimau, Beruang atau  Ular  berbisa, apalagi dijumpai ada bekas yang di tinggalkan oleh hewan tersebut,  seperti sisa makanan,  bekas cakaran di pohon, atau jejak ditanah, bau yang menyengat seperti bau anyir atau bau bangkai, kadang setelah diselidiki ternyata bau bangkai berasal dari bunga Amorphopallus  sp (bunga bangkai).

Pacat yang cukup banyak terdapat di areal Ketambe baik pacat tanah maupun pacat  daun, pacat bisa saja menggigit walaupun sudah ada pengaman yaitu kaus pacat, serangan  pacat biasa pada lengan dan leher yang kadang-kadang naik lewat celana.

Untuk mendapatkan madu lebah, Orangutan biasanya merusak sarang lebah madu. Lebah akan menyerang Orangutan dan pengamat yang berada dekat dengannya. Sehingga pengamat harus lari dan menghindar jauh. Kadang pengamat juga digigit lebah sampai bengkak dan demam.

Hujan deras ketika sedang mengamati Orangutan juga cukup menyiksa, walaupun dilindungi dengan jas hujan. Dengan tubuh yang dingin dan kadang-kadang menggigil observer berusaha bertahan lebih dari 2 jam apabila Orangutan lain susah didapat di areal.

Pada bulan tertentu atau dekat dengan sumber air, Lalat kuda (Horses fly) dan agas (nyamuk kecil) juga cukup banyak menyerang pengamat. Gigitan lalat kuda bisa menembus pakaian dan cukup sakit, kadang sampai bengkak untuk beberapa hari bagi pengamat yang kulitnya peka (sensitif). 

Lokasi dan Aksesibilitas

Statiun penelitian Ketambe terletak dalam Kawasan Taman Nasional Gunung Leuser (TNGL). Secara administratif statiun ini berada dalam wilayah Desa Bale Lutu, Kecamatan Badar, Kabupaten Aceh Tenggara. Berdasarkan posisi geografis terletak pada koordinat 03 40' 39'' Lintang Utara dan 97 39'13'' Bujur Timur.

Luas areal penelitian di SP Ketambe' sekitar 450 Ha, dan dilengkapi dengan sistem trail untuk memudahkan para peneliti. Areal penelitian ini dibatasi oleh Sungai Ketambe di sebelah Barat dan Sungai Alas disebelah Timur. Selain itu, areal penelitian dikelilingi oleh beberapa gunung, yaitu Gunung Kemiri di sebelah Utara, Gunung Mamas di Sebelah Barat dan Gunung Bendahara di sebelah Timur, dengan variasi ketinggian secara umum antara 300 - 1000 meter di atas permukaan laut. Curah hujan rata-rata per tahun antara 2650 - 4700 mm dengan kelembaban 91 - 96%.

Statiun Penelitian Ketambe adalah statiun yang paling mudah dicapai dibandingkan dengan statiun penelitian lain di dalam ekosisitem Leuser. Waktu tempuh dari Kutacane (ibu kota Kabupaten Aceh Tenggara) ke Ketambe dengan menggunakan kenderaan umum sekitar 45 menit, dengan jarak lebih kurang 32 km. Seseorang bisa mencapai Statiun penelitian Ketambe dengan menggunakan kenderaan umum, turun di areal kawasan Ketambe dan selanjut berjalan menurun menuju pinggiran sungai. Di sungai tersebut sudah tersedia sampan dan pengemudinya untuk menyeberangkan setiap tamu/peneliti, mahasiswa yang berkunjung ke Ketambe.

* Nuzuar, Co-Manager Riset SOCP, dimuat di Info Lawang edisi 2