Latar Belakang
Populasi orangutan terancam punah, dimana jumlah yang tersisa hanya sekitar 7000 ekor. Penghancuran massal terhadap habitat mereka, yakni hutan hujan tropis, merupakan alasan utama berkurangnya jumlah mereka. Program ini berkaitan dengan reintroduksi orangutan, penyitaan orangutan yang ditangkap secara illegal untuk dipelihara, dan mempromosikan cara-cara perlindungan yang lebih efektif terhadap hutan.
Manusia dan aktifitas mereka merupakan bahaya yang serius terhadap keberadaan Orangutan, seperti halnya banyak spesies hewan lainnya di Indonesia. Hutan hujan tropis, habitat alami mereka, terus menyusut hingga batas membahayakan di bawah tekanan pertumbuhan penduduk, pelanggaran terhadap agrikultur, pertanian dan pemakaian hutan lainnya. Kebakaran hutan disebabkan metode tebang dan bakar yang terus berlanjut menyebabkan kerusakan hutan yang tidak bisa diukur lagi.
Tujuan
Usaha untuk meningkatkan kesempatan bertahan hidup orangutan didukung oleh Sumatran Orangutan Conservation Programme. Sejak 1973, orangutan Sumatera yang sebelumnya dipelihara secara illegal sebagai hewan peliharaan, telah berhasil dilepaskan ke lingkungan Taman Nasional Gunung Leuser, di dekat perkebunan desa Bukit Lawang di Sumatera Utara. Meskipun begitu, pada pertengahan tahun ‘90an, peraturan dan regulasi nasional maupun internasional membuat pelepasan kembali orangutan ke beberapa wilayah yang telah dihuni oleh orangutan liar yang sehat telah membuat jumlah populasinya tidak dapat diterima (dikarenakan resiko penularan penyakit dan kelebihan populasi). Tindakan kemudian diambil PanEco dengan mendirikan sebuah pusat karantina medis yang dekat dengan kota Medan untuk memeriksa kondisi orangutan yang telah dijadikan hewan peliharaan, dan bersama dengan Frankfurt Zoological Society mendirikan sebuah Pusat Reintroduksi Orangutan di Taman Nasional Bukit Tigapuluh yang terletak di pusat pulau Sumatera, dimana pada saat ini telah berhasil mereintroduksi orangutan sehat yang jumlahnya mencapai 100 ekor.
Selain daripada kegiatan reintroduksi, SOCP juga aktif dalam penelitian, survei dan monitoring terhadap populasi liar orangutan yang tersisa, bekerja untuk meningkatkan perlindungan terhadap sisa habitat orangutan yang tersisa di Sumatera dan meningkatkan pendidikan konservasi dan kesadaran diantara komunitas yang hidup berdampingan dengan habitat orangutan liar. Stasiun rehabilitasi lama yang terletak di sungai Bohorok akan direstrukturisasi kembali menjadi pusat pengkajian dan pengamatan orangutan ekowisata.